Overclocking | ARTIKEL ARTIKEL: Overclocking Overclocking | ARTIKEL
        


_________________________________________________________________________________________________________________________________________
ஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ۩۞۩ஜஜ
 

Kamis, 18 Oktober 2012

Overclocking

0 komentar
Overclocking bukanlah istilah teknis yang resmi, overclocking merupakan istilah populer komputer dalam bahasa Inggris. Overclocking terdiri atas 2 kata utama yaitu " over " dan "clock."

" Over " dalam kamus bahasa inggris berarti "di atas" atau "melampaui", sedangkan " clock " menyatakan clock crystal yang mengontrol kecepatan prosesor. Maka overclock berarti melampaui kecepatan clock .

Secara lengkap istilah overclocking prosesor berarti mengoperasikan prosesor pada kecepatan melampaui kecepatan standar. Jika ada overclock maka juga ada istilah underclock , underclock memiliki arti yang berlawanan dengan overclock , yaitu mengoperasikan prosesor pada kecepatan yang lebih rendah. Tidak ada manfaat yang dapat diperoleh dari underclock , maka dapat dipastikan tidak ada user yang melakukan underclock terhadap prosesor komputernya.

Overclocking adalah upaya yang dilakukan dengan tujuan memaksimalkan/meningkatkan kecepatan kinerja sistem komputer dengan cara meningkatkan multiplier atau bus speed .

Dengan meningkatkan multiplier atau bus speed atau keduanya akan menghasilkan CPU clock speed yang lebih tinggi, dengan naiknya CPU clock speed maka kecepatan kerja prosesor juga meningkat. Selain itu dalam overclocking perlu dicapai suatu sistem komputer yang tetap stabil dan aman dalam arti tidak mengalami crash atau hang saat digunakan.

Jawaban utama mengapa overclocking dilakukan adalah untuk mendapatkan peningkatan kecepatan kerja prosesor, tetapi ada beberapa alasan yang lebih spesifik, antara lain:

1.   Memperoleh peningkatan kecepatan kinerja sistem komputer secara permanen tanpa biaya atau dengan biaya minimal yang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan membeli prosesor baru.

2.   Sebatas hanya mencoba kemampuan komputer.

3. Mencoba mengetahui seberapa besar peningkatan yang diperoleh sebelum memutuskan untuk mengganti prosesor dengan kecepatan yang lebih tinggi dan sama tipenya. Misalnya meng- overclock Pentium 75MHz ke 90MHz sebelum mengganti prosesor lama (Pentium 75MHz) dengan Pentium 90MHz yang sesungguhnya.

4. Memperpanjang usia pemakaian prosesor lama sebagai upaya menghemat biaya, sebelum membeli prosesor baru.

5. Memperpanjang usia pemakaian prosesor lama sambil menunggu jenis prosesor baru diluncurkan/diproduksi.

6. Untuk memperkirakan kemampuan prosesor yang akan diproduksi kemudian dalam versi kecepatan yang lebih tinggi, overclock prosesor dengan tujuan ini biasanya dilakukan dalam waktu singkat dan sangat ekstrim (peningkatan kecepatan sangat jauh).

Overclock tersebut juga bertujuan untuk mengetahui batas maksimal (margin) kemampuan suatu prosesor jika di- overclock . Kecepatan yang dicapai tentu saja dibatasi oleh kemampuan prosesor, motherboard dan komponen pendukungnya. Sebagai contoh adalah meng- overclock Pentium II 233MHz ke 333MHz (peningkatan 100MHz). Overclock ini banyak dilakukan oleh para user maupun hardware tester yang kemudian dipublikasikan di Internet.

Overclocking bukan cara yang terbaik untuk mendapatkan peningkatan kecepatan kerja sistem komputer, karena cara termudah adalah membeli dan mengganti prosesor dengan yang baru atau menggunakan prosesor overdrive. Seperti telah disebutkan diatas overclocking dilakukan untuk memperoleh peningkatan performa/kinerja sistem komputer secara keseluruhan dengan biaya minimal atau bahkan tanpa biaya sama sekali karena hanya memerlukan sedikit pengubahan konfigurasi pada motherboard agar sistem komputer dapat beroperasi lebih cepat. Pada kasus lain memerlukan beberapa komponen tambahan berupa pendingin untuk mengatasi masalah panas.

Mengapa prosesor dapat di-overclock?

Harus ada alasan mengapa sebuah prosesor dapat di- overclock . Tentunya sebuah prosesor tidak sejak awal dirancang untuk dapat di- overclock karena hal tersebut merugikan pabrik pembuatnya.

Penyebab prosesor dapat di- overclock adalah karena pabrik pembuat prosesor memberikan label produknya dengan kata "certified for" bukan "designed for". Kondisi inilah yang memungkinkan overclocking dilakukan pada prosesor. "Certified for" menyatakan kemampuan prosesor untuk beroperasi pada kecepatan tersebut, sedangkan "designed for" menyatakan pengkhususan kecepatan prosesor hanya untuk kecepatan tersebut.

Sebagai contoh: sebuah prosesor Intel Pentium yang oleh pabrik dinyatakan "certified for" 166MHz, berarti prosesor tersebut terbukti dan diakui mampu beroperasi pada kecepatan 166MHz, sedangkan bila oleh pabrik prosesor Intel Pentium dinyatakan "designed for" 166MHz maka prosesor tersebut dibuat untuk beroperasi hanya pada kecepatan 166MHz saja.

Standar kualitas yang tinggi diutamakan oleh pabrik sebelum produknya dilepas, ini disebabkan oleh persaingan yang ketat antar pabrik pembuat prosesor PC, selain itu dengan memproduksi prosesor berkualitas tinggi akan menimbulkan yang baik terhadap pabrik tersebut.

Terkadang prosesor tersebut dibuat pada die yang sama dengan die prosesor lain pada kelasnya yang memiliki kecepatan lebih tinggi.

Sebagai keterangan tambahan perlu dijelaskan bahwa tidak tiap pabrik prosesor melakukan hal seperti yang akan dijelaskan berikut. Lebih spesifik penjelasan berikut didasarkan pada kenyataan yang terjadi pada pabrik prosesor Intel. Pabrik selalu membuat desain prosesor untuk mampu beroperasi pada kecepatan tertinggi, setelah selesai dibuat tiap-tiap prosesor dites untuk melihat apakah prosesor tersebut beroperasi dengan baik pada kecepatan spesifikasi awal yang diberikan. Jika prosesor tersebut menunjukkan indikasi tidak beroperasi pada 100% kecepatannya, maka prosesor tersebut dites ulang dengan kecepatan yang lebih rendah, demikian seterusnya sampai prosesor tersebut lolos tes. Prosesor tersebut kemudian diberi tanda/label sesuai kecepatan hasil tes yang berhasil dilalui. Dipercaya bahwa ketika pabrik melakukan tes prosesor mereka memberi label prosesor pada 1 tingkat kecepatan yang lebih rendah daripada hasil tes yang dilalui, hal ini dilakukan untuk lebih menjamin kehandalan kerja prosesor. Sebagai contoh sebuah prosesor yang lolos tes pada kecepatan 200 MHz akan diberi label 166 MHz. Artinya sebuah prosesor 166 MHz pada komputer telah disertifikasi ("certified for" ) oleh pabrik mampu untuk beroperasi pada kecepatan 166 MHz, bahkan pada kondisi yang sangat ekstrim. Kondisi ekstrim yang dimaksud adalah temperatur atau suhu yang tinggi (diatas 60° C), jangkauan perubahan tegangan yang lebar(tidak stabilnya arus listrik sumber), penggunaan
operasional secara terus-menerus (beberapa tahun non-stop), dan cara pemakaian lain yang berat.

Perlu dipertanyakan mengenai perbedaan clock speed resmi antara prosesor-prosesor Pentium. Contohnya adalah Pentium 150 dan Pentium 166. Keanehan ada pada perbedaan penggunaan tipe tegangan. Pentium 150 menggunakan tegangan standar, sedangkan Pentium 166 menggunakan tegangan VRE. Padahal kenyataan yang ada adalah Pentium 150 dapat beroperasi pada 166MHz hanya dengan mengubah tipe tegangan dari standar menjadi VRE. Dapat disimpulkan bahwa Intel menjual Pentium 166 dengan label Pentium 150 hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Pada akhir tahun 1997 ada isu bahwa perusahaan Intel memberi label prosesor kecepatan tinggi dengan kecepatan yang lebih rendah, ini dilakukan 'hanya untuk' memenuhi permintaan pasar, pelabelan ulang ini dilakukan pada Pentium MMX 200MHz menjadi Pentium MMX166MHz karena permintaan Pentium MMX166 MHz yang tinggi sementara
prosesor tersebut tidak lagi diproduksi. Isu tersebut mungkin benar mungkin juga tidak, tetapi tidak ada cara yang tepat untuk membuktikannya karena Intel tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi.

Lalu apa perbedaan antara sebuah prosesor Intel Pentium MMX 166MHz dengan MMX 200Mhz?

Sebenarnya yang membedakan arsitektur desain prosesor adalah ukuran transistornya, sebuah prosesor 0,25mikron lebih cepat dan dingin daripada 0,35mikron. Antara MMX 166MHz dengan 200MHz menggunakan ukuran transistor yang sama yaitu 0,35 mikron. User hanya dapat mempercayai spesifikasi yang diberikan pabrik pada produknya. Jika diberi label 166MHz berarti memang dapat beroperasi optimal pada 166MHz, dan tidak menutup kemungkinan dapat beroperasi pada 200MHz. Tidak tertutup kemungkinan bahwa Intel akan melakukan hal yang sama untuk prosesor-prosesor lain di masa datang.

Dengan adanya 'selisih' batas toleransi atau margin yang dilakukan pabrik untuk komponen prosesornya, maka dalam kondisi yang ideal adalah mungkin untuk "memaksa" komponen pada prosesor untuk kecepatan yang lebih tinggi daripada tingkat yang telah diberikan oleh pabrik. Kondisi ideal yang dimaksud adalah pendinginan yang baik, power supply yang berkualitas dan cukup, motherboard dan memori yang berkualitas tinggi, dsb. Keterangan selanjutnya terdapat pada bagian faktor-faktor yang mempengaruhi hasil overclocking .

Proses memaksa komponen prosesor untuk bekerja pada kecepatan yang lebih tinggi dari tingkat yang diberikan pabrik kemudian dikenal dengan istilah " overclocking ". Berdasarkan keterangan diatas maka disarankan untuk meng-overclock kecepatan prosesor satu tingkat lebih tinggi karena ini sama saja mengembalikan kecepatan prosesor pada kecepatan sesuai dengan hasil tes yang dilaluinya (hanya berlaku untuk prosesor Intel), dalam batas itulah overclocking dianggap aman.

Sebelumnya perlu ditekankan bahwa tidak setiap sistem atau konfigurasi komputer mampu beroperasi lebih cepat dari sebelumnya dengan overclocking . Penyebabnya adalah karena sistem tersebut telah dimaksimalkan sebelumnya oleh pabrik atau toko penjual komputer agar dapat bersaing. Pabrik/toko tersebut biasanya menggunakan motherboard, memori, power supply yang berkualitas rendah sehingga bisa menekan harga penjualan. Berarti pada komputer tersebut sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan overclocking . Jika dipaksakan dimungkinkan kerja sistem komputer akan terganggu atau terjadi kerusakan permanen. Selain itu overclocking tidak disarankan untuk dilakukan pada komputer/PC built-up rakitan pabrik. Mengapa? Pabrik perakit PC Built-up memiliki desain komponen seperti motherboard, memori, vga, monitor tersendiri maka komponen-komponen tersebut juga didesain khusus untuk masing-masing tipe-tipe prosesor yang digunakan, komponen-komponen dalam PC diberi label/segel khusus untuk memastikan PC tersebut tidak 'diutak-atik' oleh user atau pihak lain. PC Built-up juga jarang menyertakan buku manual motherboard dan komponen-komponennya yang spesifik bagi pembeli. Buku manual sangat diperlukan untuk melakukan overclocking . Tanpa buku overclocking yang dilakukan adalah dengan cara 'coba-coba' yang sangat beresiko, selain itu garansi yang diberikan oleh pabrik akan hilang jika label/segel resmi yang diberikan rusak.

Yang banyak dipercaya saat ini adalah overclocking itu tidak aman, tetapi sekali lagi dengan mengetahui teknik yang benar dan melakukan berbagai pencegahan maka terbuka kesempatan untuk melakukan overclocking tanpa "membakar" prosesor yang digunakan.

Overclocking mempunyai resiko yang dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem  komputer karena mencoba untuk mengoperasikan sistem komputer lebih cepat dari spesifikasinya. Kerusakan ini dapat berupa kerusakan pada komponen atau data corruption . Jika belum pernah mengetahui atau mengalami sebelumnya, lakukan backup data-data penting terlebih dahulu atau agar data-data tersebut aman. Lebih baik lagi jika percobaan overclocking dilakukan dengan menggunakan hard disk cadangan yang tidak berisi data-data penting.

Overclocking akan memperpendek usia kerja prosesor, seberapa lama tidak diketahui, tetapi itu semua tergantung pada sejauh mana overclocking itu dilakukan.

Prosesor dapat rusak sehingga disebut mengalami electromigration Electromigration terjadi pada chip silikon prosesor dalam area yang beroperasi pada suhu yang sangat tinggi, electromigration dapat menyebabkan kerusakan permanen pada prosesor. Electromigration tidak secara langsung merusak prosesor, electromigration adalah proses yang lama, sehingga dapat juga dikatakan electromigration memperpendek usia pakai prosesor. Dimisalkan usia normal sebuah prosesor kurang lebih adalah 20 tahun kerja. Tetapi dengan perubahan teknologi yang sangat cepat, maka sebelum 10 tahun dapat dipastikan user telah mengupgrade atau bahkan membeli komputer baru.

Jika ingin terhindar dari electromigration maka satu hal yang penting untuk dilakukan adalah menjaga suhu prosesor agar tetap berada pada suhu operasi yang normal. Cara yang dapat diterapkan antara lain adalah dengan menggunakan pendingin heatsink dan fan yang baik, jika tingkat overclock yang dilakukan cukup tinggi maka sebaiknya menggunakan heatsink dan fan yang lebih besar, atau menggunakan peltier cooler , menggunakan thermal grease, dan membuat sirkulasi udara yang baik pada casing CPU.

Ada kemungkinan munculnya masalah yang tidak terlihat sebelum akhirnya terlambat diketahui. Sebuah contoh adalah ketika proses perhitungan 2+2 menghasilkan 5, keadaan ini menunjukkan prosesor sudah rusak. Karena itu, tidak disarankan untuk melakukan overclocking pada lingkungan kerja yang penting (database & programming).

Resiko sistem komputer mengalami crash atau hang semakin tinggi ketika prosesor di- overclock . Tidak seorangpun ingin sistem komputernya crash atau hang, apalagi bagi pada lingkungan profesional bisnis, mencegah sistem crash atau hang sangatlah penting.

0 komentar:

Poskan Komentar